Bone broth (kaldu tulang) telah menjadi produk yang populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada masa pandemi karena dipercaya bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Melansir dari Markethac, penjualan bone broth dari Januari sampai Oktober 2024 mengalami fluktuasi dengan angka tertinggi yakni Rp1.9 miliar pada bulan Maret, Mei, dan Juli.
Fluktuasi tersebut bisa terjadi karena kaldu tulang dipandang sebagai “superfood” dengan kandungan kolagen, asam amino, gelatin, hingga mineral yang baik untuk kesehatan sendi, kulit, bahkan sistem pencernaan.
Secara langsung bone broth bisa menjadi ide bisnis baru di industri kuliner yang bisa dimanfaatkan oleh pebisnis.
Apa Itu Bone Broth Cair dan Bone Broth Powder?
Terdapat dua jenis bone broth, yakni bone broth cair dan bone broth powder atau serbuk. Bone broth cair yakni kaldu yang didapatkan dengan cara merebus tulang hewan (ayam, sapi, ikan) dalam waktu lama. Biasanya hasil kaldu akan dikemas dalam bentuk botol atau pouch kemudian disimpan dengan suhu dingin.
Sedangkan bone broth powder adalah versi kering atau serbuk dari bone broth yang diproses dengan metode spray drying atau freeze drying, untuk menghasilkan bubuk kaldu yang praktis dan tahan lama.
Baca juga: Ini Tips Memilih Kaldu Bubuk Untuk MPASI
Tabel Perbandingan Bone Broth Cair vs. Bone Broth Powder
Untuk lebih memudahkan, berikut perbandingan bone broth cair dengan bone broth powder.

Efisiensi Operasional: Mana yang Lebih Ramah untuk UMKM?
Bagi UMKM dan brand baru yang masih dalam tahap awal, efisiensi menjadi hal krusial. Bone broth cair membutuhkan biaya logistik tinggi, ruang penyimpanan besar, dan pengemasan tahan suhu. Sedangkan, bone broth powder lebih fleksibel dan hemat karena tidak membutuhkan pendingin, biaya pengiriman lebih terjangkau, penyimpanan mudah dalam suhu ruang hingga cocok dijual secara online.
Dengan memilih bone broth powder, Anda bisa memulai produksi dalam jumlah kecil sekaligus menguji pasar tanpa risiko besar.
Mana yang Lebih Disukai Konsumen?
Baik itu bone broth powder atau bone broth cair, memiliki target pasarnya masing-masing. Contohnya konsumen urban dan praktis biasanya lebih menyukai bentuk bone broth powder dikarenakan mudah dibawa, bisa dicampur ke makanan atau minuman, serta tidak mudah basi.
Sedangkan konsumen yang lebih menginginkan sensasi alami atau tradisional mungkin masih memilih bone broth cair. Namun dengan edukasi yang tepat, tren menunjukkan bahwa produk instan dengan nutrisi tinggi kini lebih disukai, salah satunya bone broth powder.
Tantangan Produksi Masing-Masing Format

Keunggulan Bone Broth Powder untuk Produk Komersial
Bagi bisnis kuliner, kesehatan, dan suplemen fungsional, bone broth powder memberi berbagai keunggulan komersial, seperti:
1. Fleksibilitas produk
Bone broth powder bisa dikemas dalam bentuk sachet, pouch, atau botol kecil. Selain itu juga bisa dijadikan varian minuman sehat, bubuk sup instan, hingga bahan tambahan mie atau nasi agar lebih sehat.
2. Efisiensi biaya
Dalam hal penyimpanan, pengiriman, dan produksi, bone broth powder akan lebih efisien. Kemudian untuk menjaga suhu atau pengemasan khusus juga tidak membutuhkan banyak alat atau mesin mahal.
3. Daya tahan tinggi
Bone broth powder lebih memiliki daya tahan tinggi sehingga tidak mudah basi. Oleh karena itu juga, mudah dijual di marketplace, minimarket, bahkan untuk kebutuhan ekspor.
4. Kustomisasi
Produk bone broth powder akan lebih mudah ditambahkan bahan lainnya, seperti kolagen, jamur, jahe, dan lainnya. Selain itu, bone broth powder juga bisa diproduksi dengan berbagai varian rasa, contohnya original, spicy, herb, hingga rendah garam.
5. Relevansi pasar
Dengan adanya peningkatan konsumen akan makanan sehat dan praktis memungkinkan bone broth powder bisa lebih dicari. Selain itu produk kaldu tulang ini juga cocok untuk berbagai segmen pasar, seperti ibu hamil, lansia, pemulihan pasca sakit, bahkan konsumen vegan.
Bone broth powder bisa menjadi peluang bisnis baru di tengah masyarakat yang semakin sadar akan konsumsi makanan sehat.






