Dalam beberapa tahun terakhir, industri kuliner global semakin kaya dengan eksplorasi rasa laut. Mulai dari bumbu shrimp, crab, tuna, hingga salmon, semua menjadi bagian dari tren kuliner.
Data dari Mintel Food & Drink 2024 menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk dengan cita rasa laut meningkat lebih dari 28% di Asia Tenggara. Sementara di Indonesia, rasa seafood telah merambah ke berbagai kategori, seperti mie instan, snack, sambal, bumbu tabur, dan frozen food.
Konsumen masa kini tidak hanya mencari rasa gurih biasa, tetapi juga rasa “premium umami” yang diasosiasikan dengan makanan laut. Dalam konteks ini, salmon dan tuna menjadi dua ikon penting karena keduanya merepresentasikan segmen yang berbeda. Salmon identik dengan rasanya yang lembut, dan kesan mewah. Sedangkan ikan tuna identik dengan rasa gurih yang kuat dan khas laut.
Dua karakter inilah yang kemudian membuat produsen seasoning dan pelaku kuliner tertarik untuk mengembangkannya ke dalam seasoning yang bisa digunakan untuk berbagai kuliner.
Baca juga: Tren Seasoning Seafood di Industri Kuliner: Dari Shrimp, Crab, hingga Salmon
Ikan Salmon vs Ikan Tuna: Dua Karakter Rasa yang Berbeda
Walaupun keduanya bisa dimanfaatkan sebagai seasoning seafood, namun kedua ikan ini memiliki beberapa perbedaan. Berikut penjelasannya.

Perbedaan inilah yang memengaruhi cara industri meracik bumbu rasa salmon dan bumbu rasa tuna agar sesuai dengan karakter konsumennya masing-masing.
Komposisi dan Karakteristik Bumbu Salmon vs Bumbu Tuna
Jika dilihat dari karakteristik dan komposisinya, kedua jenis ikan ini juga memiliki perbedaan yakni:
1. Komponen utama
Umumnya bahan utama yang digunakan untuk membuat bumbu rasa salmon yakni ekstrak salmon bubuk, butter, bawang merah, bawang putih, yeast extract, lada, gula dan natural flavoring.
Sedangkan untuk bumbu rasa ikan tuna umumnya menggunakan ekstrak tuna bubuk, bawang putih, cabai bubuk, bubuk kecap asin, ekstrak rumput laut, gula, garam dan antioksidan alami.
2. Karakter rasa dan aroma
Bumbu ikan salmon memiliki cita rasa dan aroma yang gurih dengan sedikit rasa manis, tidak amis, serta memberikan sensasi premium. Sedangkan bumbu rasa ikan tuna memiliki karakter rasa yang lebih gurih khas ikan laut, lebih tajam dibandingkan ikan salmon, dan lebih cocok dipadukan dengan kuliner dengan rasa pedas atau asin.
3. Penggunaan
Bumbu rasa salmon bisa digunakan untuk mie instan dengan citra yang lebih premium. Selain itu juga bisa digunakan untuk bumbu tabur snack, saus, hingga frozen food. Sedangkan bumbu rasa ikan tuna akan cocok untuk mie instan dengan cita rasa pedas, bumbu nasi goreng, sambal, hingga snack yang dominan dengan rasa asin.
Perbedaan Utama Bumbu Salmon dan Tuna
Untuk memahami perbedaan strategis kedua jenis bumbu ini, perhatikan tabel berikut:

Secara umum, bumbu salmon lebih cocok untuk produk yang ingin menonjolkan kemewahan dan kelembutan rasa, sedangkan bumbu tuna ideal untuk produk yang menonjolkan kelezatan gurih dan aroma khas laut.
Tantangan Produksi Bumbu Seafood
Produksi bumbu rasa laut memiliki tantangan teknis yang berbeda dari bumbu daging atau nabati. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Mengatasi aroma amis
Aroma amis alami dari ikan bisa menjadi kendala, terutama tidak semua orang suka dengan rasa amis ikan. Oleh karena itu teknologi yang digunakan adalah spray drying untuk menghasilkan bubuk stabil tanpa bau menyengat.
2. Kestabilan rasa dan warna
Bumbu seafood harus tahan panas dan kelembaban tinggi. Produsen menggunakan bahan penstabil seperti anti-caking agent dan flavor stabilizer untuk menjaga kualitas rasa hingga 12–18 bulan.
3. Harga dan pasokan bahan baku
Salmon extract lebih mahal dibanding tuna karena tergantung impor. Untuk efisiensi, banyak produsen menggabungkan natural extract dengan flavor compound untuk hasil yang ekonomis namun tetap otentik.
4. Regulasi dan sertifikasi
Setiap bumbu seafood harus memenuhi standar BPOM dan Halal MUI serta diproduksi dari pabrik yang sudah memenuhi sertifikasi GMP, HACCP, hingga ISO.
Bumbu rasa ikan salmon atau ikan tuna tidak hanya menjadi sekedar bumbu, melainkan juga identitas rasa yang bisa menentukan positioning dan daya tarik konsumen terhadap sebuah brand.






